Asal-Usul Kuntilanak Merah Yang Selalu Memburu Darah Manusia

Lifestyle —Selasa, 10 Aug 2021 13:46
    Bagikan  
Asal-Usul Kuntilanak Merah Yang Selalu Memburu Darah Manusia
Image/Twitter

MATA JATENG

Warga Indonesia sudah mempercayai keberadaan kuntilanak merah. Kuntilanak ini terkenal akan kejailannya. Kuntilanak disingkat kunti adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia atau wanita yang meninggal karena melahirkan dan anak tersebut belum sempat lahir.

Nama "puntianak" merupakan singkatan dari "perempuan mati beranak namun orang orang lebih familiar dengan kata Kuntilanak.


Jika pada umumnya kuntilakan di gambarkan dengan wanita berambut terurai dan gaun panjang berwana putih berada dengan kuntilanak merah ini.

Sudah bisa anda tebak bukan dari namanya saja, kuntilanak merah ini mengenakan gaun berwarna merah.



Bukan cuma gaun saja yang berbeda tapi jika pada umumnya kuntilanak hanya menampakan diri untuk menakut-nakuti.

BACA JUGA: Telat Mengganti Oli Mesin? Ini Resiko Yang Akan Terjadi Pada Motor Anda


Kuntilanak merah justru mistosnya selain menakuti juga kerap menyerang dan menghisap darah sang korban.

Konon katanya dahulu kala sewaktu masih zaman penjajahan kolonial Belanda seorang perempuan yang bernama Dasimah di korbankan sebagai tumbal pembangunan jembatan Irigasi.



Saat itu Dasimah yang tengah mengandung dalam usia tiga bulan.
Di culik oleh beberapa pesuruh Belanda kemudian tangan dan kakinya di ikat lalu di timbun oleh semen dan beton dalam keadaan hidup-hidup.

Tidak ada satupun orang yang berani membantu Dasimah termasuk sang suami bagi warga desa disana melakukan tumbal seperti itu sudah menjadi tradisi.


Setiap bangunan akan kuat dan tahan lama bila di beri sebuah nyawa, begitulah kiranya yang terbersit dalam pikiran sang arsitektur kala itu.

BACA JUGA: Mengulik Lebih Dalam Kebudayaan Jawa Tengah


Bukan cuma jembatan namun pembangunan lain pun kerap menumbalkan nyawa manusia.
Jadi Dasimah bukan satu-satunya orang yang mengalaminya.


Selang waktu beberapa hari berlalu setalah kematian Dasimah sering tercium aroma Amis darah disekitar jembatan.

Lama- lama mulai banyak desas desus kalau pembunuh Dasimah satu persatu tewas berguguran dan mayatnya selalu ditemukan persis di bawah jembatan.

Tidak hanya pembunuhnya saja sang suami Dasimah akhrinya juga tewas, dia menggantung diri di jembatan yang menjadikan istrinya sebagai tumbal itu.

Setelah sering terjadinya banyak peristiwa kematian banyak warga yang enggan untuk melewatinya apalagi di malam hari.

BACA JUGA: Memeluk Mesin Waktu di Kota Lama Semarang


Pedesaan nampak seperti desa mati, meraka takut untuk keluar dan lebih memilih mengunci diri di dalam rumah masing- masing.

Dan teror hantu Dasimah pun semakin menjadi, setiap malam hari dia terbang mengelilingi desa dan terkadang berayun-ayun di pepohonan memanggil siapa saja orang yang pernah dia kenal semasa hidupnya.
Dasimah terkadang menangis melengking mengeluarkan ekspresi kesedihan yang dia rasakan oleh ketidakadilan yang dia alami.

Bajunya merah berlumuran darah hingga siapapun akan lari bila melihatnya.

Tak pernah mau berhenti menghantui dan meneror warga hingga desapun terkenal sebagai desa jembatan darah.

Namun seiring perkembangan zaman Dasimah si kuntilakan merah mulai pudar dan terlupakan.(NN)

Editor: Lila
    Bagikan  

Berita Terkait