Mbak Ita Kagumi Mahasiwa Lampung Kolaborasikan Dua Motif Batik

News —Senin, 4 Oct 2021 11:53
    Bagikan  
Mbak Ita Kagumi Mahasiwa Lampung Kolaborasikan Dua Motif Batik
Mbak Ita ikut membatik bersama puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Semarang asal Lampun, Minggu (03/10). Fto: Istimewa

SEMARANG, MATAJATENG

Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu atau akrab disapa Mbak Ita antusias melihat kaum milenial para mahasiswa asal Lampung membatik di Kampung Djadoel Semarang.

Bukan sembarangan motif yang dicanting, dua motif batik beda daerah disatukan dalam satu desain pada kain sepanjang 12 meter. Yakni kolaborasi motif Lampung yang khas dengan simbiol seperti gajah dan pucuk rebung, berpadu padan dengan motif asem Semarangan.

Sebanyak 50- an mahasiswa asal Lampung yang kuliah di sejumlah perguruan tinggi di Kota Semarang terlibat dalam membatik kolaborasi dua motif daerah tersebut. “Ini luar biasa kombinasi batik antara kain tapis lampung dengan batik asem semarangan,” katanya, Minggu 3 Oktober 2021.

Kombinasi motif batik lampung dengan semarangan dinilai Mbak Ita menjadi sebuah permulaaan bagaimana menciptakan multi batik dalam satu desain motif. “Sekali lagi ini luar biasa, dan ini bermula di Kampung Djadoel Semarang antara motif Lampung dengan Semarangan,” katanya.

Lahirnya multi batik ini juga membuktikan jika program yang digagas Pemkot Semarang sejak lima tahun lalu dengan kampung tematik berjalan sukses. Pada Kampung Djadoel, kata Mbak Ita, dulunya adalah sebuah kampung yang kumuh dan langganan banjir.

Baca juga: Gelar Bengkel Literasi, Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah Ajak Generasi Milenial Melek Literasi Digital

Baca juga: Kesan Anak Muda Papua ke Ganjar; Pemimpin Keren, Casing Tua tapi Dalamnya Muda Banget

Cikal bakal sebagai kampung batik saat itu suda ada namun belum memiliki ciri khas yakni produksi khas Semarangan. “Dulu lima tahun saya lihat, namanya kampung batik Semarang, tapi hanya jual produk saja, itu juga batik solo dan pekalongan. Sekarang sudah ada pembatiknya dan jual batik khas Semarangan,” katanya.

Pihaknya juga terus memberikan dorongan berupa pelatihan secara berkelanjutan bagi para pembatik Semarangan. Terbaru, dengan pelatihan batik Semarangan di Gedung Sobokarti, yang bisa diikuti siapa saja yang ingin belajar dan tahu lebih tentang batik.

“Itu peserta milenial semua, jadi bagaimana batik ini tidak terkikis jaman, dengan generasi muda sebagai penerus kedepannya,” katanya.

Nanang Suwidyo (17), mahasiswa Lampung, mengaku senang dengan kolaborasi dua motif Lampung dan Semarangan. Kegiatan ini kata dia, diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Pelajar Lampun di Semarang (Kamapala) bekerjasama dengan Kampung Dajdoel Semarang.

“Kita desain, lalu kita batik bersama para mahasiswa Lampung yang ada di Semarang, hasilnya nanti kita pajang di asrama,” katanya. (Sunarto)

Baca juga: Hadiri Pembukaan PON Papua, Ganjar; Ini Luar Biasa Meriah, Saya Terharu

Baca juga: Ekspresi Kegembiraan Sepak Bola Presiden Jokowi

Editor: Lila
    Bagikan  

Berita Terkait