Pusing Data Vaksin Tidak Valid, Ganjar Cek Lapangan dan Temukan Fakta Ini

News —Selasa, 3 Aug 2021 13:50
    Bagikan  
Pusing Data Vaksin Tidak Valid, Ganjar Cek Lapangan dan Temukan Fakta Ini
Pusing Data Vaksin Tidak Valid, Ganjar Cek Lapangan dan Temukan Fakta Ini (foto: Solikun)

GROBOGAN, MATAJATENG

Sejumlah Bupati dan Wali Kota di Jawa Tengah banyak yang protes pada Pemerintah pusat terkait ketersediaan vaksin. Sebab, data vaksinasi antara Pemerintah Pusat dengan Daerah tidak sama.

Banyak daerah di Jateng yang kehabisan stok vaksin. Namun data yang dimiliki Pemerintah Pusat melalui aplikasi Smile menunjukkan daerah-daerah itu masih memiliki stok vaksin cukup banyak. Ternyata, data di aplikasi Smile tidak sesuai seperti di lapangan.

Tak mau berlarut, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun langsung terjun ke lapangan pada Selasa (03/08/2021). Ganjar bertolak ke Grobogan untuk melihat kondisi di sana. Sebab sebelumnya, Bupati Grobogan selalu meminta tambahan vaksin. Namun di data Smile dari Pemerintah Pusat, stok vaksin di Grobogan masih banyak sehingga tidak dikirim.

Saat mengecek vaksinasi di Desa Wolo, Ganjar menemukan titik persoalannya. Ternyata, setiap acara vaksinasi, semua data diinput secara langsung melalui aplikasi Pcare. Baru setelah itu, data diinput melalui aplikasi Smile.

"Lah kenapa tidak ke Smile pak, kan itu pusat melihatnya pakai itu," tanya Ganjar kepada petugas.

Baca juga: Mahasiswa 4 Universitas di Semarang Menggoyang Pusat Isolasi Corona

Baca juga: Resep Makanan: Cara Membuat Keripik Tempe Renyah, Cocok untuk Cemilan

Menyikapi hal tersebut. Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, Slamet Widodo menjelaskan, bahwa inputing data ke aplikasi Smile membutuhkan waktu yang lama. Data baru diinput setelah direkap dari aplikasi Pcare.

"Itu butuh waktu lama pak, kami tiap hari kalau vaksinasi sudah langsung input ke aplikasi Pcare," jelas Slamet.

Dari situlah Ganjar menemukan titik persoalan. Bahwa sebenarnya ada ketidakcocokan data antara pemerintah pusat dengan daerah. Pemerintah pusat melihat stok masih banyak, karena inputing data ke aplikasi Smile belum sempurna.

"Saya hanya mau meluruskan saja, karena kemarin saat saya sampaikan ke pusat, hampir seluruh kabupaten protes. Lho kami sudah menyuntikkan banyak, dan sudah habis, kok datanya seolah-olah kami masih nyimpan stok. Ini bu Bupati Grobogan juga komplain, makanya langsung saya cek," jelas Ganjar.

Ternyata, lanjut dia, ada dua sistem yang perlu dikoreksi. Pertama Pcare, yakni aplikasi yang digunakan untuk menyimpan data setelah orang divaksin. Setiap yang datang, divaksin langsung diinput.

Baca juga: Resep Makanan: Cara Membuat Pisang Ijo Ice Cream Dengan Mudah

Baca juga: Ramalan Zodiak Selasa 3 Agustus 2021 Taurus Banyak Hal Yang Harus Dipikirkan, Pisces Ada Tuntutan Yang Lebih Besar

"Ini (Pcare) sebenarnya adalah data paling reall. Sementara pusat yang dipakai acuan data dari aplikasi Smile. Ternyata butuh waktu lama untuk mengisi ke aplikasi Smile, mulai disuntik, direkap di aplikasi Pcare, baru dilaporkan. Lha ini kalau belum diinput di Smile, maka dibaca dan dianggap stok masih banyak," terangnya.

Untuk mengantisipasi hal itu, Ganjar mengusulkan agar ada integrasi data dan meminta pemerintah pusat untuk juga melihat proses vaksinasi di aplikasi Pcare.

"Karena itu lebih realtime. Nanti kami evaluasi dengan Dinkes dan akan kami usulkan. Kebetulan pak Menkes tadi telpon, jadi sekaligus kami umumkan," ungkapnya.

Ganjar berharap ke depan tak lagi ada ribut-ribut soal perbedaan data. Yang perlu diributkan saat ini adalah seberapa cepat warga divaksin.

"Biar energinya tidak dibuang untuk perdebatan yang tidak penting lagi, karena kita bisa memperbaiki itu," pungkasnya. (Solikun)

Baca juga: Mitos Gamelan Pemanggil Arwah, Bertumbalkan Darah Disetiap Bunyinya

Baca juga: Perkembangan Teknologi Yang Membuat Serba Otomatis, Internet Of Things (IOT)

Editor: Riyan
    Bagikan  

Berita Terkait