Selama Pandemi Melanda, Penghasilan Porter di Stasiun dan Bandara Terhimpit

News —Sabtu, 7 Aug 2021 02:12
    Bagikan  
Selama Pandemi Melanda, Penghasilan Porter di Stasiun dan Bandara Terhimpit
Wakil Walikota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu membagikan sembako kepada para porter di Stasiun Poncol Semarang. Foto:ist


SEMARANG, MATAJATENG

Pandemi corona terjadi pada 2020 lalu, sehingga secara nyata kini tengah melumpuhkan sendi  kehidupan, salah satunya jasa porter kereta api dan bandara. Akibat dari Kebijakan PPKM yang diberlakukan pemerintah, menyebabkan banyak perjalanan kereta dibatasi.

Seperti yang diceritakan Mujiman (59), pria renta asal Semarang yang sudah 29 tahun bekerja sebagai porter di Stasiun Tawang Semarang. Akibat sepinya penumpang kereta, dia kadang hanya berangkat dua kali dalam sebulan. Sementara dalam satu hari hanya terdapat 4 kereta api yang beroperasi dan berhenti di Stasiun Tawang Semarang.

 "Saking sepinya, selama pandemi ini saya hanya berangkat dua kali dalam sebulan," ujar Mujiman.

 Karena, kata dia, tentu saja kebijakan ini berimbas pada menurunnya jumlah penumpang yang sangat berpengaruh pada penghasilan para porter.

“Selama pandemi melanda, para porter semakin terhimpit dan kesulitan perekonomiannya hingga banyak yang banting stir alih profesi lain demi bertahan hidup,” akunya.

 Ia mengaku, sejak pandemi pendapatan dari hasil sebagai porter turun drastis. Karena sebelumnya dalam sehari bisa 'angkut barang penumpang sampai delapan kali.

“Kalau sekarang paling-paling dua kali dan uang yang didapat hanya Rp 40ribu, Itupun kalau dapat penumpang, karena jumlah porter di sini kan banyak," ungkap bapak dari tiga anak ini.

Baca juga: Resep Makanan: Cara Membuat Makanan Khas Mataram Mangut Lele Dengan Mudah

Baca juga: Resep Makanan: Cara Membuat Keripik Singkong Renyah, Cocok Untuk Cemilan Sore

Untuk menambah pendapatan, Mujiman bahkan mencari kerja sampingan sebagai serabutan dengan mengisi ulang korek gas.

"Buat nutup kebutuhan ya kerja serabutan, ngisi ulang korek gas saat ndak jadi porter," ceritanya.

Untuk satu korek gas yang berhasil diisi, Mujiman menerima bayaran Rp 1.000. "Paling gak, sampai sore bisa isi 30 korek. Alhamdulillah dapat Rp. 30ribu," katanya.

 Nasib porter stasiun dan bandara di masa pandemi tersebut mendapat perhatian dari Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu. Mbak Ita, sapaan akrab Hevearita tergerak setelah menyaksikan video yang diunggah warganet terkait kondisi para porter yang harus bekerja di tengah kondisi stasiun yang sepi karena kebijakan PPKM.

 Sekadar untuk berbagi terhadap nasib para porter stasiun dan bandara tersebut Mbak Ita mengajak

manajemen PDAM Tirta Moedal dan UMKM Semarang untuk ikut berbagi memberi paket sembako bagi

para porter di Stasiun Tawang, Stasiun Poncol dan Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang.

Baca juga: Candi Sari, Magnetnya Boyolali

Baca juga: A Best Recipe to Make a Crispy Tempe

 

Turut mendampingi, Direktur Umum (Dirum) PDAM Tirta Moedal Semarang, Farchan Hilmie, Wakil Kepala Stasiun Semarang Tawang Daniel Yuniarta dan Lurah Tanjung Mas, Margo Haryadi.

 "Awalnya saya melihat video menyayat hati terkait porter yang bekerja meski kondisi stasiun sepi dan banyak kereta yang di cancel. Kami Pemkot Semarang tergerak, bersama PDAM Tirta Moedal dan pelaku UMKM di Semarang hari ini memberikan bantuan berupa sembako, makan siang, telur kepada saudara kita para porter di Stasiun Tawang, Stasiun Poncol dan Bandara," ujar Mbak Ita.

 Ita mengatakan, di Stasiun Tawang setidaknya ada 60 porter, di stasiun Poncol ada 8 porter dan Bandara Ahmad Yani ada 28 porter yang menerima bantuan. Bantuan tersebut merupakan bentuk kepedulian Pemkot Semarang kepada para porter yang juga terdampak pandemi.

 "Semoga bantuan yang diberikan bisa meringankan beban saudara kita para porter, apalagi pembatasan PPKM ini banyak perjalanan dan penerbangan yang dicancel yang berakibat pula pada penurunan pendapat mereka," kata Ita. (Sunarto)

 

Baca juga: Ngeri–Ngeri Sedap : Self–Healing di Air Terjun Tawangmangu

Baca juga: Wisata di Jawa Tengah: Melepas Penat, Membunuh Sambat


Editor: Riyan
    Bagikan  

Berita Terkait