Asal-Usul dan Sisi Lain Kota Rembang, Menentang Ajaran Islam

Panduan wisata —Kamis, 5 Aug 2021 14:28
    Bagikan  
Asal-Usul dan Sisi Lain Kota Rembang, Menentang Ajaran Islam
Image/Pinterest

MATA JATENG

Kabupaten Rembang mempunyai semboyan "Rembang BANGKIT" yang bermakna Bahagia, Aman, Nyaman, Gotong-royong, Kerja keras, Iman, Takwa.

Kota Rembang merupakan salah satu kota yang penuh dengan nilai sejarah.Berbicara tentang sejarah, Ada beberapa versi mengenai sejarah atau asal usul kota rembang.


Berikut merupakan salah satu asal usul dari nama rembang

Pada zaman dahulu ada seorang saudagar kaya raya berasal dari Cina yang bernama Dampo Awang. Pada awalnya, dia pergi bersama para pengawalnya hendak pergi ke suatu tempat untuk mengajarkan ajaran Kong Hu Cu dengan mengarungi samudera yang luas.

Suatu ketika, dia telah sampai di tanah jawa bagian timur dan kemudian berlabuh di sana. Senang dengan daerah itu, dia pun bermaksud untuk menetap sambil mengembangkan ajarannya.


Suatu hari Dampo Awang bertemu dengan Sunan Bonang yang merupakan salah satu tokoh dari wali songo yang menyebarkan agama islam di Tanah Jawa. Pada pertemuan pertama dengan Sunan Bonang, Dampo Awang memperlihatkan sikap yang tidak sopan kepada Sunan Bonang karena dia takut ajaran yang dia ajarkan akan terganti dengan ajaran Islam.

BACA JUGA: Menjadi Wartawan itu..Catatan Hendry Ch Bangun


Dari kejadian tersebut, Dampo Awang berniat untuk mencelakakan Sunan Bonang. Suatu hari Saat Sunan Bonang hendak mendirikan sholat ashar, Dampo Awang berpikir untuk mencelakai Sunan Bonang. Dia pun menyuruh pengawalnya untuk menaruh racun ke dalam air putih di dalam kendi yang berada di atas meja.

Dampo Awang mengira bahwa Sunan Bonang akan meminum air dalam kendi itu, namun dugaannya tidak benar. Ternyata Sunan Bonang menuju meja untuk mengaji.


Suatu hari Sunan Bonang mengumandangkan adzan dan melatunkan ayat-ayat suci al-Quran di depan teras rumahnya, masyarakat kagum dengan Sunan Bonang. Akhirnya banyak para penduduk yang memeluk agama islam.

Seiring berjalannya waktu, para pengikut Sunan Bonang semakin banyak jumlahnya. Mendengar hal itu, Dampo Awang sangat marah karena pengikutnya semakin berkurang dan banyak yang beralih kepada ajaran Sunan Bonang. Dampo Awang pun kemudian mengirim pengawalnya untuk menjemput Sunan Bonang. Pada mulanya, Sunan Bonang tidak mau saat hendak dijemput. Namun karena merasa kasihan kepada para pengawal Dampo Awang yang akan dihukum pancung jika tidak berhasil membawa Sunan Bonang, Sunan Bonang pun akhirnya mau untuk datang ke rumah Dampo Awang.

BACA JUGA: Salah Satu bangunan Dalam Garis Imajiner Gunung Merapi, Tugu, dan Kraton Yogyakarta Atau Sering Disebut Panggung Krapyak,Ternyata Ini Fungsinya


Pada awalnya Dampo Awang menjamu Sunan Bonang dengan sangat baik, dibalik kebaikan Dampo Awang itu dia menyimpan rasa benci kepada Sunan Bonang. Di tengah-tengah perjamuan tersebut, Dampo Awang meminta Sunan Bonang untuk pergi dari daerah tersebut. Tetapi Sunan Bonang menolak permintaan Dampo Awang, dia tidak ingin meninggalkan daerah tersebut. Mendengar jawaban itu, Dampo Awang sangat murka. Dampo Awang menyuruh pengawalnya untuk menyerang Sunan Bonang, tetapi Sunan Bonang bisa mengalahkan pengawal Dampo Awang dengan mudah.

Dampo Awang tidak terima dengan kekalahannya, dia kembali ke negeri asalnya dan kembali untuk membalas kekalahannya. Ketika dia sudah sampai di Tanah Jawa dia sangat kaget sekali karena semua penduduk di daerah itu sudah memeluk agama Islam. Dampo Awang sangat murka untuk kedua kalinya, dia mencari Sunan Bonang. Saat Dampo Awang bertemu dengan Sunan Bonang dia langsung menyerangnya. Tetapi dalam waktu singkat Sunan Bonang bisa mengalahkan Dampo Awang beserta pengawalnya.


Kemudian Dampo Awang diikat di dalam kapalnya . Lalu Sunan Bonang menendang kapal itu sehingga kapal itu berceceran kemana-mana. Sebagian dari kapal itu ada yang di laut, Dampo Awang menyebut kalau bagian itu “Kerem ( Tenggelam )” sedangkan Sunan Bonang menyebutnya “Kemambang ( Terapung )” . Seiring berjalannya waktu penduduk memanggil daerah tersebut dengan sebutan “Rembang” yang berasal dari kata Kerem dan Kemambang.

Konon katanya jangkar kapal Dampo Awang sekarang berada di Taman Kartini, dan layarnya berada di batu atau biasanya sering disebut "Watu Layar". Sedangkan kapalnya konon menjadi Gunung Bugel di kecamatan Pancur karena bentuknya menyerupai sebuah kapal besar, dan di atas gunung ada sebuah makam yang dipercayai merupakan makam Dampo Awang.

Editor: Lila
    Bagikan  

Berita Terkait