Cahaya yang Menyiram

Sketsa Rasa —Sabtu, 18 Sep 2021 10:05
    Bagikan  
Cahaya yang Menyiram
Cahaya yang Menyiram/ Pinterest

Oleh: Amir Machmud Ns

CAHAYA YANG MENYIRAM

tentu tak secara tiba-tiba cahaya mengurung rongga hidupku. Siapa yang mampu menelusupkan sinar dari celah yang aku sendiri pun tak menemukannya?

aku takkan mengurainya. Biarlah cahaya itu menjadi seperti ruap matahari pagi yang menyiramkan energi hangat tubuh dan menyegarkan angan

dalam terangnya kutemukan rasa. Dalam rasa kucecap kehangatan. Takkan kusoal dari mana ia tiba. Kudapatkan rekah nikmat pori-pori yang kini memancar menjadi kiblat pikiran, pelan-pelan meninggalkan kusam masa lalu

di depan, kuyakin cahaya itu makin menyiramkan makna.
(2021)

Baca juga: Resep Makanan: Cara Membuat Gepuk Sapi, Makanan Khas Sunda yang Enak

Baca juga: Resep Makanan: Cara Membuat Yangnyeom Tongdak Makanan Khas Korea Dengan Mudah


SUNGAI ITU SEPERTI DIRIKU

sungai itu seperti hidupku. Gemericik airnya sabar menghalau waktu yang pernah bergemuruh. Kini betapa dia mengalun tenang sebening itu

pernah dia meriuh hiruk pikuk. Mengempas banjir menyingkirkan bebatu dan ranting-ranting lepas bersilangan. Warnanya keruh kuning kecokelatan seperti jiwa yang meronta

sungai itu seperti diriku. Kulihat pada titik tenang dan pada amuk air. Tapi kucoba menjadi gemericik bening. Tapi kubertahan agar tak lagi membawa warna keruh kuning itu.
(2021)


-- Puisi-puisi Amir Machmud NS tersebar di sejumlah antologi bersama dan di berbagai media. Antologi tunggalnya yang sudah terbit adalah "Tembang Kegelisahan" (2020), "Percakapan dengan Candi" (2021), dan "Kematian, Setiap Kali" (2021). Kini penyair yang tinggal di Semarang itu tengah menyiapkan penerbitan antologi "Dari Peradaban Gunadarma".

Baca juga: Pedagang Berikut Sering Bertemu dengan Makhluk Gaib? Simak Ceritanya Berikut Ini

Baca juga: Ramalan Zodiak Besok Sabtu 18 September 2021 Taurus Dikejar Deadline Kerja, Libra Sedang Ingin Mengulang Masa Kecil

Editor: Lila
    Bagikan  

Berita Terkait