Lewat Kearifan yang Terbaca

Sketsa Rasa —Sabtu, 16 Oct 2021 08:47
    Bagikan  
Lewat Kearifan yang Terbaca
Lewat Kearifan yang Terbaca/ Fto: Istimewa

Oleh: Amir Machmud NS


LEWAT KEARIFAN YANG TERBACA

candi berbicara menyatukan masa-masa
dengan bahasa budaya
: dia ada untuk suatu masa
namun dia hadir tak hanya untuk masanya

menghampar dari generasi ke generasi
candi-candi menatap dan kau tatap dengan rasa
gagah wajah mahakarya
: dia menanda kebesaran wangsa
dia terwariskan untuk bangsa

candi melebur makna
lewat kearifan yang terbaca
: ada agama
ada kuasa
ada seni
ada budaya
pun ada cinta
dan rasa sudah pasti ada dalam muatan kehadirannya

resapilah dengan mata waskita
tanpa harus meneriakkan permusuhan
untuk menandai adanya.
(26-04-2021)

Baca juga: Mengunjungi Wilayah Konservasi Penyu di Pantai Tanjung Bloam

Baca juga: Kopi Rempah dan Jejak Soekarno di Kesultanan Ternate



MERAPI

Merapi mengulik candi-candi dari panggung eksibisi jagat raya. Ia arga yang setia mengawal kosmologi alam dan perilaku manusia

pesan apakah yang dia sampaikan ketika pada suatu masa sejadi-jadinya memuntahkan amuk mahapralaya?

O, masa silam yang hitam. Kalian tak harus melupakan. Sejarah menorehkan sebagai pesan

dari bukit Sambarabudara Merapi melatari cakrawala timur. Kadang membawa awan putih berarak. Kadang mengusung koloni mendung kelam. Ada terang, ada muram. Acapkali misteri terbaca sebagai eksotika

dari Syiwagrha ia menjadi panorama sempurna altar penyatuan pikiran manusia. Ia menarasikan percakapan alam yang memberi tanda-tanda dan bukankah seharusnya manusia menafsirkan dengan perilakunya

tafsir alam hadir dalam pagi, mengedar dalam siang, menyerta dalam malam. Mampukah kau membaca tanda?

kita tak sekadar kalang kabut ketika Merapi tersiram kabut. Tak hiruk-pikuk ketika Merapi terbatuk-batuk

karena alam adalah bahasa. Lalu bukankah candi yang gagah berdiam adalah isyarat-isyarat pula?
(2021)


-- Dua puisi di atas dinukil dari antologi Dari Perdaban Gunadarma (2021), yang merupakan kumpulan puisi tunggal keempat Amir Machmud NS setelah Tembang Kegelisahan (2020), Percakapan dengan Candi (2021), dan Kematian, Setiap Kali (2021).

Baca juga: Ini Dia Permainan Tradisional yang Mulai Terlupakan

Baca juga: Dari Cakalele Hingga Rebana, Meriahnya Penyambutan Warga kepada Ganjar di Ternate

Editor: Lila
    Bagikan  

Berita Terkait