Puisi Tentang Virus Corona

Sketsa Rasa —Sabtu, 19 Jun 2021 11:51
    Bagikan  
Puisi Tentang Virus Corona
Puisi Tentang Virus Corona (foto:unsplash)

Amir Machmud NS

KITA TAK PUNYA TEMPAT SEMBUNYI

 

kita tak punya tempat sembunyi

dari garang virus mengepung

menyusup ke sekecil apa pun pori-pori

yang kini meremang sepanjang hari

 

tak penting lagi kelam atau terang

mati tak menunggu pagi

ajal pun tak kenal jadwal

 

tempat-tempat karantina menumpuk cerita

pemakaman melantunkan kidung senyap menyayat

pemulasaraan mengundang sunyi tak kita mengerti

air mata meneteskan zat yang asing

 

sempatkah kita meneduhkan duka?

kau baca dan tandai wajah-wajah kosong

dan kupastikan ekspresi datar

dari balik masker-masker hambar

 

corona menepikan cinta

menyumbat tempat-tempat berteduh

menutup ruang-ruang berlindung

rapat memagari hati

betapa angkuh memunggungi rasa

 

sekeras apa pun tangisan

sekuat apa pun lolongan

sepedih apa pun rintihan.

(18-6-2021)


Baca juga: Ikatan Cinta Malam Ini, Kebohongan Elsa Terbongkar Hingga Ingin Bunuh Diri

Baca juga: Kisah Misteri di Bioskop Atoom yang Terbengkalai Menjadi Tempat Tinggal Makhluk Halus

 

Amir Machmud NS

TIBA-TIBA KUTEMUI LAGI SORE

 

semua gerak waktu berubah menjadi senjakala

entah sudah berapa lama

 

saat tiba-tiba bertemu lagi sore

canggung aku menyapanya

datar saja dia menatapku

 

setiap sudut waktu tak terlewat kujumpai

tanpa sore menjadi titik henti

lama dia tak kuhitung di sehari-hari detak nadiku

 

sore tak berubah dengan kilau kuningnya

yang malas beranjak dari terang siang

mungkin enggan berjumpa senja

 

entah apa rasa yang kujumput dengan mata

yang redup dalam paranoia

pertemuan-pertemuan pun tanpa kepastian

yakinkah esok aku bakal menyapanya lagi?

(2021)

 

Baca juga: Mitos atau Fakta? Keberadaan Sosok Nyi Roro Kidul Sang Ratu Pantai Selatan

Baca juga: Simak Tips Berikut untuk Mencerahkan Wajah yang Terlihat Kusam

 

Amir Machmud NS

AKU TAHU BERHENTI DI MANA

 

sudah kau beri waktukah aku

istikamah menyemayamkan rasa

dengan getar yang menyusup indera

aku tahu harus berjalan dan berhenti di mana

 

kau di sini

dan aku takkan ke mana-mana lagi

 

kita pasrah

walau menolak corona menghampiri.

(2021)

 

Baca juga: Ikatan Cinta Malam Ini, Kebohongan Elsa Terbongkar Hingga Ingin Bunuh Diri

Baca juga: Mitos atau Fakta? Keberadaan Sosok Nyi Roro Kidul Sang Ratu Pantai Selatan

 

Amir Machmud NS

PASTIKAN INI...

 

entah siapa nanti yang lebih dulu mati

aku atau engkau

kucecap tiap tetes keringat dari pori-pori hidupmu

pastikan itu transfusi rasa yang hanya aku dan kau menandainya

 

entah siapa nanti yang lebih dulu membujur abadi

aku atau engkau

kutatah tiap kata dalam diksi beruntai narasi

pastikan itu prasasti cinta yang hanya aku dan kau mampu menerjemahkan

 

entah siapa nanti yang lebih dulu mengucap pergi

aku atau engkau

kupahat di dinding hati yang telah kita maknai

pastikan itu monumen yang final menyatukan.

(2021)

 

Baca juga: Simak Tips Berikut untuk Mencerahkan Wajah yang Terlihat Kusam

Baca juga: Simak Tips Berikut untuk Mencerahkan Wajah yang Terlihat Kusam

 

Amir Machmud NS

SILUET SENYAP MEMBAYANGI

 

siluet itu memecah rasa di pagi gagah ketika matahari tak terhalang kerumunan awan. Simaklah ada gelisah dalam rekah cerah

 

semburat merah sesaat membakar langit timur lalu segera menebar terang mengguyur jagat raya. Bacalah ada sunyi dalam samar cahaya

 

terbata-bata rasaku memintal senyap justru saat terang membenderang memanjat langit menyiram siang. Sibaklah ada resah di balik terang

 

aku masih bercengkerama dengan sisa embun siapa tahu memberi setetes sejuk yang menenangkan resah jiwa. Tahukah kau siluet senyap tak henti membayangi...

(2021)

 

 

 

Amir Machmud NS

MELATI, MANGGA, DAN JAMBU

MASA LALU

 

wangi melati itu terkadang masih lewat menyemburat

dulu kurawat di halaman rumah di desa dalam udara dingin pagi

saat sejuk masih hangat bersahabat

 

pohon mangga tua itu sudah tak ada lagi

dulu jadi kebanggaan yang meneduhi

digelayuti buah-buah manalagi

masih berkawan angin sepoi

membuai nyaman masa kecil

 

pohon jambu itu kini sudah kehilangan rimbunnya

yang bergeriap matang buah

dulu kupanjat sambil memerangkap burung-burung emprit

buahnya tak manis lagi

mungkin telah tercecap masa-masa yang berganti

 

tinggal masa silamkah yang berhak menyimpan

langit jernih tanpa keruh corona?

(2021)

Editor: Putri
    Bagikan  

Berita Terkait